Penulis: Yendi Septiyendi

  • Wakaf dan Kesejahteraan Guru: Fondasi Kemajuan Pendidikan Nasional

    Wakaf dan Kesejahteraan Guru: Fondasi Kemajuan Pendidikan Nasional

    Guru yang Mencerdaskan, Guru yang Belum Sejahtera

    Tidak ada pendidikan yang maju tanpa guru yang tenang hatinya. Kurikulum bisa berganti, gedung bisa dibangun, gawai bisa dibagikan. Namun yang menyalakan semangat belajar di dalam kelas tetaplah seorang guru.

    Ironisnya, banyak guru di negeri ini masih harus memikirkan cara menutup kebutuhan bulanan sebelum memikirkan cara terbaik mengajar. Tidak sedikit yang mengajar pagi hari, lalu mengojek, berjualan, atau memberi les hingga malam. Energi yang semestinya tercurah untuk murid terbagi untuk bertahan hidup.

    Saya sudah hampir dua puluh tahun menjadi guru, sejak angkatan pertama di Sekolah Alam Cikeas pada 2007. Dari pengalaman itu saya belajar satu hal: guru yang sejahtera bukan kemewahan, melainkan prasyarat. Pertanyaannya, dari mana sumber kesejahteraan yang berkelanjutan itu? Salah satu jawabannya sudah lama ada dalam tradisi kita sendiri, yaitu wakaf.

    Potret Kesejahteraan Guru Kita

    Sebagian besar guru honorer dan guru di sekolah swasta kecil masih menerima penghasilan jauh di bawah upah minimum. Di sejumlah daerah, honor guru hanya sekitar Rp150 ribu hingga Rp500 ribu per bulan, sementara gaji pokok guru PNS berada di kisaran Rp3 juta hingga Rp6 juta (GNFI, 2025). Sebuah survei yang dikutip dalam pembahasan kebijakan 2025 mencatat 74 persen responden guru digaji di bawah Rp2 juta (GNFI).

    Akar masalahnya bukan sekadar kurang anggaran. Hingga kini belum ada standar upah minimum khusus guru honorer, dan honor mereka banyak bergantung pada dana BOS, sumbangan komite, atau kemampuan yayasan (Kompas, 2026). Pemerintah memang terus menambah tunjangan dan insentif, tetapi APBN tidak mungkin menanggung semuanya sendirian, terutama untuk ribuan sekolah swasta dan berbasis masyarakat.

    Kesejahteraan juga bukan hanya soal gaji guru di kelas. Tenaga kependidikan seperti staf tata usaha, pustakawan, laboran, petugas kebersihan, dan penjaga sekolah sering kali berada di posisi yang lebih rentan lagi. Padahal tanpa mereka, sekolah tidak bisa berjalan.

    Dampaknya nyata: guru kelelahan karena kerja rangkap, sulit mengembangkan diri, dan sebagian memilih meninggalkan profesi. Yang paling dirugikan pada akhirnya adalah murid.

    Wakaf: Lebih dari Masjid, Makam, dan Madrasah

    Wakaf adalah menahan pokok harta agar abadi, lalu menyalurkan manfaat atau hasilnya untuk kebaikan secara terus-menerus. Inilah yang membedakan wakaf dari sedekah biasa: pokoknya tidak habis, manfaatnya terus mengalir.

    Selama ini masyarakat kita mengenal wakaf sebatas “3M”: masjid, makam, dan madrasah. Padahal Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004 tentang Wakaf sudah membuka ruang yang jauh lebih luas, termasuk wakaf uang dan wakaf produktif. Harta wakaf boleh dikelola dan dikembangkan, lalu hasilnya disalurkan kepada penerima manfaat.

    Potensinya sangat besar. Badan Wakaf Indonesia memperkirakan potensi wakaf uang nasional sekitar Rp180 triliun per tahun, sementara wakaf uang yang tercatat terhimpun pada 2024 baru sekitar Rp 2,9 triliun (Fortune IDN, 2025). Artinya, masih ada ruang yang sangat lebar untuk diisi, dan pendidikan adalah salah satu ladang terbaiknya.

    Bayangkan sebidang kebun, ruko, unit usaha, atau dana abadi yang hasilnya setiap bulan dialirkan untuk honor guru. Selama pokoknya dijaga, manfaatnya tidak pernah putus, bahkan setelah para wakifnya wafat. Itulah yang dalam hadis disebut sedekah jariyah.

    Jejak Sejarah: Ketika Wakaf Menghidupi Guru

    Sejarah peradaban Islam menunjukkan bahwa lembaga pendidikan besar berdiri kokoh justru karena wakaf, dan wakaf itulah yang menjamin kehidupan para pengajarnya.

    • Madrasah Nizamiyah di Baghdad, yang didirikan Nizam al-Mulk pada abad ke-11, dibiayai dari hasil harta wakaf. Para pengajar menerima gaji tetap dan para pelajar memperoleh tunjangan, sehingga mereka dapat sepenuhnya fokus pada ilmu.
    • Al-Azhar di Kairo sudah lebih dari seribu tahun berdiri dan selama berabad-abad ditopang oleh aset wakaf. Dari sanalah biaya pengajar, beasiswa, dan asrama mahasiswa dari berbagai negara, termasuk Indonesia, dibiayai.
    • Pondok Modern Darussalam Gontor di Ponorogo adalah teladan di negeri sendiri. Para pendirinya mewakafkan pondok kepada umat pada 1958, dan sejak itu pondok dikelola sebagai harta wakaf dengan unit-unit usaha yang menopang kemandirian lembaga beserta para gurunya.

    Pelajarannya jelas: ketika kesejahteraan pendidik ditopang oleh sumber yang abadi, lembaga pendidikan menjadi mandiri, tahan krisis, dan mampu melahirkan generasi demi generasi ulama dan cendekiawan.

    Model Wakaf untuk Kesejahteraan Guru

    Wakaf bisa diarahkan untuk kesejahteraan pendidik melalui beberapa model yang saling melengkapi.

    1. Dana abadi guru (endowment). Wakaf uang dihimpun, diinvestasikan secara syariah, lalu imbal hasilnya dipakai untuk menambah honor, tunjangan hari raya, atau bantuan kesehatan guru dan tenaga kependidikan.
    2. Wakaf produktif berbasis aset. Lahan, kebun, toko, kantin, atau unit usaha sekolah dikelola secara profesional. Keuntungannya dialirkan rutin ke pos kesejahteraan pendidik.
    3. Wakaf untuk pengembangan kompetensi. Hasil wakaf membiayai pelatihan, sertifikasi, studi lanjut, dan kegiatan belajar guru. Guru yang terus bertumbuh akan mengajar lebih baik.
    4. Wakaf hunian dan fasilitas guru. Rumah dinas atau asrama di atas tanah wakaf meringankan beban terbesar keluarga guru, yaitu biaya tempat tinggal.
    5. Wakaf jaminan sosial pendidik. Dana cadangan untuk guru yang sakit, tertimpa musibah, atau memasuki masa purnabakti, agar pengabdian mereka tidak berakhir dalam kekhawatiran.

    Semua model ini memiliki satu kesamaan: pokok wakaf tetap utuh, sementara hasilnya mengalir terus. Inilah yang membuat wakaf berbeda dari donasi sesaat yang habis dalam satu kali penyaluran.

    Belajar dari Sekolah Alam

    Sekolah alam Indonesia menjadikan alam sebagai ruang kelas, saung menjadi tempat belajar, dan yang paling utama adalah kualitas guru serta metode, serta buku atau resource, bukan kemegahan gedung.

    Dari pengalaman mengajar di Sekolah Alam Indonesia dan membantu merintis sekolah alam di daerah Mendelem Kecamatan Belik, Kabupaten Pemalang, saya melihat bahwa kunci keberhasilan sekolah selalu kembali pada guru. Di Mendelem, dengan fasilitas sederhana, para lulusan bisa diterima di SMA negeri karena gurunya hadir dengan sepenuh hati. Namun semangat saja tidak cukup untuk jangka panjang. Guru membutuhkan kepastian hidup agar bisa bertahan dan terus bertumbuh.

    Di sinilah peran Yayasan Wakaf Sekolah Alam Indonesia (Wakaf SAI) menjadi penting. Wakaf yang dihimpun untuk lahan dan fasilitas sekolah alam adalah investasi jangka panjang. Langkah berikutnya yang patut kita perjuangkan bersama adalah menjadikan sebagian hasil wakaf sebagai penopang kesejahteraan guru dan tenaga kependidikan, sehingga sekolah alam di kota maupun di pelosok dapat tumbuh tanpa harus membebani orang tua murid dengan biaya tinggi.

    Syarat Agar Wakaf Benar-Benar Menyejahterakan

    Potensi besar tidak otomatis menjadi manfaat. Ada beberapa syarat yang perlu dipenuhi.

    • Nazir yang amanah dan profesional. Pengelola wakaf harus memahami syariah sekaligus manajemen investasi dan usaha, agar pokok wakaf aman dan hasilnya optimal.
    • Transparansi. Laporan penghimpunan, pengelolaan, dan penyaluran perlu terbuka dan mudah diakses. Kepercayaan wakif adalah modal utama.
    • Peruntukan yang jelas. Ikrar wakaf sebaiknya menyebut secara eksplisit bahwa hasilnya untuk kesejahteraan dan pengembangan guru, agar tidak tergerus kebutuhan lain.
    • Literasi wakaf. Masyarakat perlu tahu bahwa wakaf bisa dimulai dari nominal kecil melalui wakaf uang, tidak harus menunggu punya tanah.
    • Sinergi, bukan pengganti. Wakaf melengkapi peran negara, yayasan, dan orang tua, bukan menggantikan kewajiban mereka terhadap guru.

    Penutup: Menanam untuk Generasi

    Kemajuan pendidikan nasional tidak akan lahir dari guru yang terus-menerus cemas akan nafkahnya. Wakaf menawarkan jalan yang sudah terbukti selama berabad-abad: sumber kesejahteraan yang abadi, mandiri, dan bernilai ibadah.

    Setiap rupiah yang kita wakafkan untuk pendidikan akan terus bekerja. Ia menjadi honor guru yang lebih layak, pelatihan yang membuat guru makin cakap, dan pada akhirnya ilmu yang mengalir ke murid-murid kita. Pahalanya pun terus mengalir kepada kita, bahkan setelah kita tiada.

    Mari mulai dari yang kita mampu. Berwakaf melalui lembaga yang amanah seperti Wakaf SAI, mengajak keluarga dan rekan kerja, atau sekadar menyebarkan tulisan ini. Ketika guru sejahtera, guru berdaya. Ketika guru berdaya, Indonesia akan maju.

    Yendi Septiyendi — guru dan konsultan pendidikan, pakyendi.com

    Sumber

  • Deskripsi Rapor Kilat dengan AI: Personal untuk Tiap Siswa, Selesai dalam Satu Jam

    Deskripsi Rapor Kilat dengan AI: Personal untuk Tiap Siswa, Selesai dalam Satu Jam

    Setiap akhir semester, wali kelas menghadapi pekerjaan yang sama: menulis deskripsi capaian untuk puluhan siswa. Satu kelas berisi 30 siswa dengan beberapa mata pelajaran bisa berarti ratusan paragraf. Karena waktunya mepet, tidak sedikit guru akhirnya menyalin kalimat yang sama untuk banyak anak dan hanya mengganti namanya.

    Padahal orang tua membaca rapor untuk mengenal perkembangan anaknya sendiri. Kalimat yang seragam terasa dingin dan tidak membantu.

    Dalam tulisan ini saya berbagi cara yang saya pakai: menulis deskripsi rapor dengan bantuan AI, cepat tetapi tetap sesuai perkembangan masing-masing siswa. Untuk satu kelas, pekerjaannya bisa selesai dalam waktu kurang dari satu jam.

    Prinsipnya: AI tidak mengarang, AI merangkai

    Kesalahan yang paling sering terjadi adalah meminta AI “buatkan deskripsi rapor untuk 30 siswa” tanpa memberi data apa pun. Hasilnya pasti kalimat umum yang sama semua.

    Caranya dibalik. Guru tetap menjadi sumber informasi tentang setiap siswa, sedangkan AI hanya merangkai informasi itu menjadi kalimat yang rapi. Deskripsi menjadi berbeda untuk tiap siswa karena datanya memang berbeda, bukan karena kalimatnya diacak.

    Langkah 1: Siapkan data singkat per siswa

    Buat tabel sederhana di spreadsheet. Satu baris untuk satu siswa, cukup empat kolom:

    KodeTP paling dikuasaiTP perlu bimbinganCatatan guru
    S01Pecahan senilai, soal ceritaMembagi pecahanRajin bertanya, sering membantu teman
    S02Mengurutkan pecahanSoal cerita pecahanTeliti tapi lambat, perlu didorong berani mencoba
    S03Semua TP tercapai–Cepat paham, bisa diberi tantangan lebih

    TP adalah tujuan pembelajaran. Kolom TP bisa diisi dengan memilih dari daftar TP yang sudah ada. Kolom catatan guru inilah yang membuat deskripsi terasa personal. Satu ciri khas per siswa sudah cukup, dan mengisinya hanya butuh sekitar 15–20 detik per anak.

    Perhatikan bahwa yang dipakai adalah kode siswa, bukan nama lengkap. Nama baru dipasangkan kembali setelah deskripsi selesai, supaya data pribadi siswa tidak ikut dikirim ke layanan AI.

    Langkah 2: Beri AI aturan penulisan yang jelas

    Perintah yang baik membuat hasil AI konsisten. Contoh perintah yang bisa langsung dipakai di ChatGPT, Gemini, atau Claude:

    Kamu adalah wali kelas SD yang menulis deskripsi rapor Kurikulum Merdeka. Untuk setiap baris data di bawah, tulis deskripsi capaian mata pelajaran Matematika dengan aturan:

    • Kalimat 1: “Ananda menunjukkan penguasaan yang baik dalam …” (dari kolom TP dikuasai).
    • Kalimat 2: “Ananda perlu bimbingan dalam …” (dari kolom TP perlu bimbingan). Jika kosong, ganti dengan saran pengayaan.
    • Kalimat 3: satu kalimat tentang sikap belajar dari kolom catatan, positif dan membangun.
    • Maksimal 60 kata, bahasa santun untuk dibaca orang tua.
    • Jangan menambahkan hal yang tidak ada di data. Jangan memakai kalimat pembuka yang sama untuk siswa berurutan.
    • Keluarkan hasil sebagai tabel: Kode | Deskripsi.

    Data: (tempel tabel dari spreadsheet)

    Aturan “jangan menambahkan hal yang tidak ada di data” sangat penting. Tanpa aturan itu, AI kadang mengarang prestasi atau kebiasaan yang tidak pernah ada.

    Langkah 3: Kerjakan per kelompok kecil

    Jangan menempel data 30 siswa sekaligus. Kirim 10–15 siswa per sekali kirim, sehingga satu kelas selesai dalam 2–3 kali. Dengan kelompok kecil, AI lebih teliti dan kalimatnya lebih bervariasi.

    Salin hasilnya kembali ke spreadsheet di kolom baru. Setelah itu pasangkan kode dengan nama asli memakai rumus VLOOKUP atau INDEX/MATCH.

    Langkah 4: Baca ulang sebelum dimasukkan ke rapor

    Bagian ini tidak boleh dilewati. Luangkan sekitar satu menit per siswa untuk memeriksa tiga hal:

    1. Faktanya benar. Tidak ada TP atau sikap yang tertukar dengan siswa lain.
    2. Tidak terlalu mirip. Dua siswa berurutan tidak memiliki kalimat yang hampir sama.
    3. Nadanya santun. Kalimat “perlu bimbingan” tetap terdengar menyemangati, bukan menghakimi.

    Ingat, guru tetap bertanggung jawab atas isi rapor. AI hanya membantu menyusun kalimat.

    Berapa lama waktunya?

    Untuk satu kelas berisi 30 siswa:

    KegiatanPerkiraan waktu
    Mengisi data per siswa±10 menit
    Proses AI (2–3 kali kirim)±5 menit
    Membaca ulang dan merapikan20–30 menit
    Totalkurang dari 1 jam

    Bandingkan dengan cara manual yang biasanya menghabiskan beberapa malam.

    Tips agar tidak terasa copy-paste

    • Jangan kosongkan kolom catatan. Satu ciri khas per siswa sudah cukup untuk membuat deskripsinya hidup.
    • Minta variasi kata kerja, misalnya mampu, terampil, konsisten, mulai menunjukkan, dan semakin percaya diri.
    • Buat bank frasa sekolah. Sepakati gaya bahasa bersama rekan guru, sehingga rapor seragam dalam nada tetapi tetap personal dalam isi.
    • Simpan perintah yang sudah terbukti bagus, lalu pakai lagi semester berikutnya.

    Jaga privasi dan kejujuran

    • Gunakan kode siswa, jangan kirim nama lengkap, NISN, atau data keluarga ke layanan AI.
    • Jangan biarkan AI menambahkan prestasi atau masalah yang tidak tercatat.
    • Kalau sekolah sudah memiliki aturan penggunaan AI, ikuti aturan tersebut.

    Penutup

    AI tidak menggantikan peran guru dalam mengenal siswanya. Justru sebaliknya: dengan waktu menulis yang jauh lebih singkat, guru punya lebih banyak waktu untuk benar-benar mengamati dan mendampingi anak.

    Saya juga menyiapkan template spreadsheet yang sudah berisi kolom data, daftar TP, perintah AI, dan kolom pemeriksaan hasil. Bagi Bapak dan Ibu guru atau sekolah yang ingin mempraktikkannya bersama, silakan hubungi saya lewat halaman kontak di pakyendi.com. Materi ini juga tersedia dalam bentuk pelatihan singkat untuk guru.

  • 10 Tips Sederhana Membuat Program dengan Laravel untuk Pemula

    10 Tips Sederhana Membuat Program dengan Laravel untuk Pemula

    Laravel adalah kerangka kerja (framework) PHP yang membuat pembuatan aplikasi web jauh lebih rapi dan cepat. Saya memakainya untuk membangun aplikasi sekolah, seperti sistem informasi akademik untuk mengelola data siswa, nilai, dan jadwal.

    Dari pengalaman itu, saya belajar bahwa program yang baik tidak harus rumit. Yang penting rapi, mudah dirawat, dan bisa dikembangkan bertahap. Berikut sepuluh tips sederhana yang saya pakai sehari-hari. Tips ini cocok untuk guru, mahasiswa, atau siapa saja yang baru mulai belajar Laravel.

    Sebelum mulai, pastikan komputer sudah terpasang PHP, Composer, dan database (misalnya MySQL). Cara memasangnya bisa dilihat di dokumentasi resmi Laravel di laravel.com/docs.

    1. Rancang data di kertas dulu, baru menulis kode

    Sebelum membuka laptop, tulis dulu data apa saja yang akan dikelola dan bagaimana hubungannya. Contoh untuk aplikasi nilai sekolah: satu kelas punya banyak siswa, dan satu siswa punya banyak nilai.

    Coretan sederhana ini akan menjadi tabel di database. Lima belas menit merancang di kertas bisa menghemat berjam-jam membongkar kode di kemudian hari.

    2. Biarkan Artisan membuatkan file untuk Anda

    Laravel punya asisten baris perintah bernama Artisan. Daripada membuat file satu per satu, cukup satu perintah:

    php artisan make:model Siswa -mcr

    Perintah itu langsung membuat empat hal sekaligus: model Siswa, file migration untuk tabelnya (-m), controller (-c), dan isi controller berupa fungsi standar tambah–lihat–ubah–hapus (-r). Lebih cepat dan nama filenya pasti seragam.

    3. Kelola tabel lewat migration, bukan lewat phpMyAdmin

    Migration adalah “resep” pembuatan tabel yang ditulis dalam kode. Contoh:

    Schema::create('siswas', function (Blueprint $table) {
        $table->id();
        $table->string('nama');
        $table->string('nisn', 10)->unique();
        $table->foreignId('kelas_id')->constrained('kelas');
        $table->timestamps();
    });

    Lalu jalankan:

    php artisan migrate

    Keuntungannya, susunan tabel tersimpan bersama kode. Saat aplikasi dipindah ke komputer lain atau ke hosting, tabel bisa dibuat ulang persis sama hanya dengan satu perintah.

    Satu catatan untuk nama tabel berbahasa Indonesia: Laravel menebak nama tabel dengan aturan bahasa Inggris, sehingga model Siswa menjadi tabel siswas. Untuk kata yang tebakannya bisa meleset, seperti Kelas, sebutkan nama tabelnya secara jelas, misalnya constrained('kelas') di migration dan protected $table = 'kelas'; di model.

    4. Gunakan route resource dan beri nama setiap route

    Untuk fitur tambah–lihat–ubah–hapus, tidak perlu menulis tujuh baris route. Cukup:

    Route::resource('siswa', SiswaController::class);

    Laravel otomatis memberi nama pada setiap route, misalnya siswa.index dan siswa.create. Di tampilan, panggil route dengan namanya:

    <a href="{{ route('siswa.create') }}">Tambah Siswa</a>

    Jika suatu hari alamat URL berubah, tautan di seluruh aplikasi tetap berfungsi tanpa perlu diubah satu per satu.

    5. Jangan pernah percaya isian formulir: selalu validasi

    Pengguna bisa salah ketik, mengosongkan kolom, atau sengaja memasukkan data aneh. Laravel membuat pemeriksaan data sangat mudah:

    public function store(Request $request)
    {
        $data = $request->validate([
            'nama'     => 'required|max:100',
            'nisn'     => 'required|digits:10|unique:siswas',
            'kelas_id' => 'required|exists:kelas,id',
        ]);
    
        Siswa::create($data);
    
        return redirect()->route('siswa.index')
            ->with('pesan', 'Data siswa berhasil disimpan.');
    }

    Jika ada isian yang tidak sesuai, Laravel otomatis mengembalikan pengguna ke formulir beserta pesan kesalahannya. Jangan lupa isi $fillable di model agar hanya kolom yang diizinkan yang bisa disimpan.

    6. Manfaatkan relasi Eloquent, dan hindari query berulang

    Tuliskan hubungan antartabel di model:

    // app/Models/Kelas.php
    public function siswa()
    {
        return $this->hasMany(Siswa::class);
    }
    
    // app/Models/Siswa.php
    public function kelas()
    {
        return $this->belongsTo(Kelas::class);
    }

    Setelah itu, nama kelas seorang siswa cukup dipanggil dengan $siswa->kelas->nama.

    Satu jebakan yang sering terjadi: saat menampilkan 300 siswa beserta kelasnya, aplikasi diam-diam menjalankan 301 query ke database. Halaman jadi lambat. Solusinya, ambil relasinya sekaligus dengan with():

    $siswa = Siswa::with('kelas')->orderBy('nama')->paginate(25);

    Dengan paginate(), data juga otomatis dibagi per halaman sehingga tetap ringan meski siswanya ribuan.

    7. Buat satu layout Blade, lalu pakai berulang

    Kepala halaman, menu, dan bagian bawah biasanya sama di semua halaman. Simpan di satu file layout, misalnya resources/views/layouts/app.blade.php:

    <!doctype html>
    <html lang="id">
    <head><title>@yield('judul') | Aplikasi Sekolah</title></head>
    <body>
        @include('partials.menu')
        <main>@yield('isi')</main>
    </body>
    </html>

    Setiap halaman cukup “menumpang” pada layout tersebut:

    @extends('layouts.app')
    @section('judul', 'Daftar Siswa')
    @section('isi')
        {{-- isi halaman di sini --}}
    @endsection

    Ingin mengganti menu? Cukup ubah satu file, dan semua halaman ikut berubah.

    8. Isi data contoh dengan seeder

    Mengetik puluhan data uji coba secara manual itu melelahkan. Buat seeder, lalu isi data contoh dengan satu perintah:

    php artisan make:seeder KelasSeeder
    php artisan db:seed

    Saat database perlu dikosongkan dan diisi ulang dari awal, gunakan php artisan migrate:fresh --seed. Perintah ini menghapus semua isi tabel, jadi hanya pakai di komputer sendiri, jangan di server yang sudah berisi data asli.

    9. Simpan rahasia di .env dan catat perubahan dengan Git

    Password database, kunci API, dan pengaturan email disimpan di file .env, bukan di dalam kode. File ini jangan pernah dibagikan atau diunggah ke GitHub. Laravel sudah memasukkannya ke .gitignore secara bawaan.

    Biasakan juga mencatat setiap perubahan dengan Git:

    git add .
    git commit -m "Menambah fitur input nilai siswa"

    Git ibarat buku catatan perjalanan kode. Jika fitur baru membuat aplikasi rusak, kita bisa kembali ke versi sebelumnya yang masih berjalan.

    10. Kenali alat bantu mencari kesalahan

    Error adalah bagian biasa dari belajar. Beberapa alat yang membantu:

    • dd($variabel) untuk melihat isi data lalu menghentikan program di titik itu.
    • File storage/logs/laravel.log untuk membaca catatan kesalahan yang terjadi.
    • php artisan route:list untuk melihat semua alamat (route) yang tersedia.
    • php artisan tinker untuk mencoba perintah Eloquent langsung, tanpa membuat halaman.

    Saat aplikasi sudah dipakai orang lain, pastikan APP_DEBUG=false di file .env server. Dengan begitu, detail kesalahan dan informasi sensitif tidak tampil ke pengunjung.

    Penutup

    Membuat program itu mirip mengajar: mulai dari yang sederhana, rapi sejak awal, lalu dikembangkan sedikit demi sedikit. Tidak perlu menguasai semua fitur Laravel sekaligus. Kuasai sepuluh kebiasaan di atas, dan Anda sudah bisa membangun aplikasi sekolah yang berguna, misalnya untuk data siswa, absensi, atau rekap nilai.

    Punya pertanyaan, atau sekolah Anda butuh aplikasi sendiri? Silakan tinggalkan komentar atau hubungi saya lewat halaman kontak di pakyendi.com.

  • Wakaf untuk Pendidikan di Pelosok Negeri: Menghadirkan Sekolah Layak di Daerah Minim Infrastruktur

    Tulisan ini pertama kali dimuat di situs Yayasan Wakaf Sekolah Alam Indonesia (Wakaf SAI).

    Di banyak pelosok negeri, perjalanan menuju sekolah masih berarti menyeberangi sungai tanpa jembatan, menyusuri jalan tanah yang berubah menjadi lumpur saat hujan, atau berjalan berjam-jam melewati bukit. Sesampainya di sekolah, anak-anak sering mendapati ruang kelas yang atapnya bocor, buku yang serba terbatas, dan guru yang harus mengajar beberapa kelas sekaligus. Jarak dari pusat pemerintahan membuat bantuan datang terlambat, atau tidak datang sama sekali.

    Di titik inilah wakaf menemukan perannya yang paling mulia: menghadirkan pendidikan yang layak di tempat-tempat yang paling jauh dari perhatian.

    Perjalanan menuju ruang belajar di sekolah alam
    Perjalanan menuju ruang belajar di sekolah alam
    Foto: Wakaf SAI

    Kesenjangan yang Masih Nyata

    Persoalan infrastruktur pendidikan kita belum selesai. Data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah yang dikutip RRI menyebutkan, dari sekitar 1,18 juta ruang kelas sekolah dasar pada tahun ajaran 2024/2025, lebih dari 60 persen membutuhkan perbaikan. Di jenjang SMP, hanya sekitar separuh ruang kelas yang berada dalam kondisi baik.

    Kesenjangan itu paling terasa di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Pada Februari 2026, Wakil Ketua Komisi X DPR RI Lalu Hadrian menegaskan bahwa ketimpangan pendidikan di wilayah 3T adalah yang “paling nyata”, dengan banyak bangunan sekolah yang rusak dan tidak layak pakai. Pemerintah memang menargetkan revitalisasi puluhan ribu sekolah, tetapi kebutuhan di lapangan jauh lebih besar dan menuntut peran serta seluruh elemen umat.

    Wakaf: Amal yang Pahalanya Terus Mengalir

    Rasulullah ﷺ bersabda:

    “Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim)

    Wakaf untuk pendidikan istimewa karena menghimpun dua dari tiga amal tersebut sekaligus. Bangunan sekolah, lahan, atau dana abadi pendidikan adalah sedekah jariyah. Ilmu yang dipelajari anak-anak di dalamnya, lalu mereka amalkan dan ajarkan kembali, adalah ilmu yang bermanfaat. Selama sekolah itu berdiri dan ilmunya terus mengalir, selama itu pula pahala wakif tidak terputus.

    Sejarah peradaban Islam membuktikannya. Universitas Al-Qarawiyyin di Fez, Maroko, yang didirikan Fatimah al-Fihri pada abad ke-9, serta Al-Azhar di Kairo, hidup dari wakaf selama berabad-abad. Di tanah air, Pondok Modern Darussalam Gontor diwakafkan oleh para pendirinya kepada umat pada tahun 1958 dan hingga kini menjadi salah satu lembaga pendidikan Islam terbesar di Indonesia.

    Anak-anak belajar langsung di alam terbuka
    Anak-anak belajar langsung di alam terbuka
    Foto: Wakaf SAI

    Lima Manfaat Wakaf bagi Pendidikan di Daerah Minim Infrastruktur

    1. Menyediakan lahan dan bangunan sekolah. Di daerah terpencil, persoalan pertama sering kali sederhana: tidak ada tempat untuk belajar. Wakaf tanah dan wakaf pembangunan memungkinkan sekolah berdiri di lokasi yang paling dekat dengan anak-anak, sehingga mereka tidak perlu menempuh perjalanan jauh dan berbahaya.

    2. Menjamin keberlanjutan biaya operasional. Bantuan sesaat mudah habis. Wakaf uang yang dikelola secara produktif, misalnya melalui dana abadi pendidikan, menghasilkan imbal hasil yang dapat membiayai honor guru, perawatan bangunan, dan kebutuhan belajar setiap tahun, sementara pokok wakafnya tetap utuh.

    3. Menghadirkan dan menahan guru yang berkualitas. Salah satu masalah terbesar daerah 3T adalah guru yang enggan menetap. Hasil wakaf produktif dapat digunakan untuk insentif, rumah guru, dan pelatihan, sehingga guru terbaik mau mengabdi lebih lama.

    4. Membuka akses beasiswa bagi anak-anak kurang mampu. Di daerah yang jauh dari pusat ekonomi, banyak keluarga yang kesulitan membiayai pendidikan lanjutan. Wakaf dan infak beasiswa membuat anak-anak berbakat tetap dapat melanjutkan sekolah tanpa terbebani biaya.

    5. Menjadikan alam sebagai ruang belajar. Keterbatasan gedung tidak harus menjadi penghalang. Konsep sekolah alam menjadikan kebun, sungai, dan lingkungan sekitar sebagai laboratorium hidup. Dengan dukungan wakaf, sekolah dapat dibangun secara sederhana dan ramah lingkungan, sesuai dengan potensi setempat, tanpa kehilangan kualitas pendidikannya.

    Kisah dari Lapangan: Sekolah Alam Gunung Mendelem

    Selama tiga tahun, tim SAI Edu Academy mendampingi pembangunan dan pengembangan kurikulum Sekolah Alam Gunung Mendelem. Hasilnya menjadi bukti bahwa pendidikan bermutu dapat tumbuh jauh dari kota: seluruh lulusan angkatan pertamanya diterima di SMA negeri.

    Suasana belajar di Sekolah Alam Indonesia
    Suasana belajar di Sekolah Alam Indonesia
    Foto: Wakaf SAI

    Pengalaman ini menunjukkan bahwa yang dibutuhkan daerah terpencil bukan sekadar gedung megah, melainkan ekosistem pendidikan yang berkelanjutan: lahan untuk belajar, guru yang berdedikasi, kurikulum yang dekat dengan kehidupan anak, dan pendanaan yang tidak berhenti di tengah jalan. Keempatnya dapat dijaga oleh wakaf.

    Potensi Besar yang Belum Tergarap

    Badan Wakaf Indonesia (BWI) memperkirakan potensi wakaf uang di Indonesia mencapai Rp181 triliun per tahun, sementara realisasi wakaf uang yang tercatat pada 2024 baru sekitar Rp2,9 triliun. Indonesia juga memiliki sekitar 451 ribu titik aset wakaf, namun banyak yang belum dikelola secara produktif.

    Artinya, ruang kebaikan masih sangat luas. Jika sebagian kecil saja dari potensi itu diarahkan untuk pendidikan di daerah terpencil, ribuan anak dapat belajar di ruang kelas yang layak, diajar oleh guru yang menetap, dan memiliki kesempatan yang sama dengan anak-anak di kota.

    Mari Ambil Bagian

    Setiap rupiah yang diwakafkan untuk pendidikan adalah benih yang akan tumbuh menjadi generasi berilmu, sebagaimana perumpamaan dalam QS. Al-Baqarah ayat 261: sebutir benih yang menumbuhkan tujuh tangkai, dan pada setiap tangkai ada seratus biji.

    Yayasan Wakaf Sekolah Alam Indonesia (Wakaf SAI), sebagai Nazhir Wakaf Uang yang terdaftar di Badan Wakaf Indonesia, mengajak Anda untuk turut menghadirkan pendidikan yang layak hingga ke pelosok negeri melalui program Wakaf Uang Dana Abadi Pendidikan dan Infaq Beasiswa Pendidikan.

    Program Infaq Beasiswa Pendidikan Wakaf SAI
    Program Infaq Beasiswa Pendidikan Wakaf SAI
    Foto: Wakaf SAI

    Informasi program dan konfirmasi donasi di Wakaf SAI: WhatsApp resmi 0856-9010-541 atau email wakaf.sai@gmail.com.

    Referensi

    Baca juga versi aslinya di wakafsai.org.

  • Bedah Buku “Bilaku Mati”: Catatan Kajian Ustadz Ammi Nur Baits

    Bedah Buku “Bilaku Mati”: Catatan Kajian Ustadz Ammi Nur Baits

    Kematian adalah satu-satunya janji yang pasti ditepati, tetapi paling sering kita lupakan. Buku Bilaku Mati karya Ustadz Ammi Nur Baits mengajak kita menengok kembali hakikat kematian dan apa yang menunggu setelahnya. Berikut catatan dari kajian bedah buku tersebut.

    Suasana kajian di atrium Pesona Square, Depok.

    Pembuka: Adab Menghadiri Majelis Ilmu

    Kajian dibuka dengan pengingat tentang adab. Datang sebelum kajian dimulai adalah bentuk penghormatan kepada majelis ilmu. Sufyan Ats-Tsauri, ulama salaf, menyamakannya dengan penghormatan seseorang kepada shalat, yang terlihat dari hadirnya ia sebelum iqamah.

    Beragama dengan Ilmu, Bukan Budaya

    Beragama dengan landasan budaya akan merusak agama. Sikap “ikut saja keyakinan orang tua atau nenek moyang” sudah dicela dalam Al-Qur’an. Karena itu, keyakinan seputar kematian pun perlu diukur dengan dalil, bukan dengan kebiasaan yang turun-temurun.

    Ziarah Kubur dan Doa untuk yang Telah Wafat

    Ziarah kubur punya dua manfaat:

    • Bagi peziarah: mengingatkan pada kematian dan melembutkan hati.
    • Bagi mayit: ia mendapat doa dari yang masih hidup.

    Doa ziarah yang diajarkan Nabi ﷺ:

    Assalāmu ‘alaikum ahlad-diyār minal mu’minīn… wa innā insyā Allāhu bikum lāḥiqūn.

    Merekalah yang Butuh Doa Kita

    Amal orang yang sudah meninggal terputus, sehingga merekalah yang membutuhkan doa orang yang masih hidup. Jangan dibalik dengan meminta-minta kepada mayit atau menjadikannya perantara doa.

    Meyakini ada makhluk atau orang mati yang “mengantarkan doa kepada Allah” sama dengan perbuatan kaum musyrik, yang berkata, “Mereka itu pemberi syafaat kami di sisi Allah” (QS Yunus: 18). Seolah-olah Allah tidak mendengar doa hamba-Nya.

    Sebaliknya, doa untuk saudara tanpa sepengetahuannya itu mustajab, dan malaikat berkata, “Dan untukmu yang semisal.”

    Teman Setia di Alam Kubur

    Mayit diikuti tiga hal: keluarga, harta, dan amal. Dua kembali pulang, hanya amal yang tinggal menemaninya.

    Amal itu datang dalam wujud seseorang. Amal shalih berwajah tampan, berpakaian bagus, dan harum. Amal buruk berwajah menakutkan dan berbau busuk.

    Jika ingin teman yang baik di kubur, carilah dengan amal shalih sejak sekarang.

    Sekilas Isi Buku: Kematian Para Nabi

    Salah satu bahasan menarik dalam buku ini adalah kematian para nabi: apakah Nabi Khidir sudah wafat, dan bagaimana dengan Nabi Isa. Tentang Nabi Isa, ada tiga keyakinan:

    KeyakinanTentang Nabi Isa
    YahudiDibunuh/disalib, mati su’ul khotimah
    NasraniDisalib, mati husnul khotimah
    IslamBelum wafat; diangkat Allah dengan jasad dan ruhnya

    Bab 1: Hakikat Kematian

    Apa Itu Kematian?

    Setiap jiwa pasti merasakan mati, lalu dikembalikan kepada Allah. Kematian tidak bisa dihindari walau bersembunyi di benteng yang kokoh, dan tidak bisa dimajukan atau dimundurkan. Usia muda pun bukan jaminan hidup lebih lama.

    Ada mitos bahwa orang yang punya jimat susah mati. Ini kesimpulan umum yang ditarik dari satu-dua kasus. Sakaratul maut yang lama bukan karena jimat; yang berbahaya justru mati dalam keadaan membawa syirik karena memegang jimat.

    Orang yang sudah mati meminta kembali ke dunia untuk beramal shalih, tetapi permintaan itu ditolak, karena di antara mereka ada barzakh (pemisah). Karena itu, keyakinan bahwa arwah bisa pulang ke rumah adalah keyakinan yang dusta.

    Al-Qurthubi menukil definisi ulama: kematian adalah terpisahnya ruh dari jasad. Maka orang yang pingsan atau mati suri belum mati.

    Kematian Itu Makhluk

    Allah menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji siapa yang terbaik amalnya (QS Al-Mulk: 2).

    Pada hari kiamat, kematian didatangkan dalam wujud seekor domba lalu disembelih di antara surga dan neraka. Lalu diserukan, “Wahai penghuni surga, kekal tanpa mati; wahai penghuni neraka, kekal tanpa mati.” Ini wajib diimani walau di luar jangkauan akal.

    Pelajarannya: bersabarlah atas ujian dunia, karena balasannya abadi.

    Mati Itu Dua Kali

    Penduduk neraka berkata, “Engkau telah mematikan kami dua kali dan menghidupkan kami dua kali” (QS Ghafir: 11; lihat juga QS Al-Baqarah: 28).

    Bab ini ditutup dengan pengingat: ilmu yang diambil dari sumber yang benar akan menambah keyakinan, dan di situlah iman bertambah.

    Tanya Jawab Kajian

    Mimpi bertemu saudara yang baru meninggal, ia minta tolong dan berpakaian compang-camping. Apakah ia sedang disiksa?

    Orang hidup bisa bertemu ruh orang yang sudah meninggal dalam mimpi, sebagaimana sebagian sahabat bermimpi bertemu sahabat lain yang telah wafat. Saat tidur, ruh orang hidup “dipegang” Allah; para ulama menyebut tidur sebagai wafat kecil.

    Meninggal di hari Jumat, apakah pasti terbebas dari siksa kubur meski tidak shalat?

    Meninggal pada hari atau malam Jumat memang termasuk sebab terlindung dari fitnah kubur, tetapi dengan syarat imannya terpenuhi. Ini bukan jaminan bagi orang yang tidak memenuhi syarat tersebut.

    Orang tua menyimpan jimat lalu meninggal. Apa yang harus dilakukan anak?

    Jimat yang masih ada jangan disimpan atau diwariskan. Ustadz mengingatkan bahwa jimat termasuk perkara syirik yang sangat berbahaya.

    Apakah mati suri itu ada?

    Pembahasan ini ada di buku halaman 127. Orang yang benar-benar telah mati tidak mungkin hidup kembali ke dunia. “Mati suri” pada hakikatnya belum mati; ia termasuk wafat kecil, mirip tidur. Karena itu, cerita pengalaman mati suri tidak bisa dijadikan dalil tentang alam kubur.

    Kematian tidak dapat dipercepat atau ditunda. Bagaimana dengan hadits bahwa ‘ain bisa mendahului takdir?

    Waspadalah terhadap ‘ain. Karena itu Rasulullah ﷺ mengajarkan, bila takjub melihat sesuatu pada orang lain, ucapkanlah Māsyā Allāh, tabārakallāh atau Allāhumma bārik.

    Pelajaran praktisnya: jangan membuat postingan dengan niat pamer yang membuat orang takjub, karena bisa jadi yang melihat malah menjadi iri.

    Penutup

    Kematian pasti datang, dan hanya amal yang akan menemani kita di alam kubur. Semoga catatan singkat ini menjadi pengingat untuk memperbanyak amal shalih, mendoakan saudara-saudara kita yang telah mendahului, dan terus belajar dari sumber yang benar.

    Untuk pembahasan yang lebih lengkap, silakan membaca langsung buku Bilaku Mati karya Ustadz Ammi Nur Baits.

    Penulis bersama istri di sela rangkaian kajian di Pesona Square, Depok.

    Catatan ini dirangkum oleh penulis dari kajian bedah buku. Bila ada kekeliruan, itu berasal dari penulis, dan kebenaran datangnya dari Allah.